Keheningan di Atas Tikar: Alasan Pak Dukuh Plempoh Menolak Berteriak "Merdeka"

Semalam, udara terasa cukup bersahabat saat warga sekampung berkumpul di lapangan voli Dusun Plempoh, Bokoharjo, Prambanan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, malam tirakatan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-81 ini selalu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Tikar-tikar mulai digelar rapi, warga duduk tenang menghadap panggung, dan suasana keakraban antartetangga begitu kental terasa.

Acara semacam ini sudah menjadi tradisi, dan biasanya selalu dibuka dengan sambutan dari Bapak Kepala Dukuh. Sebagai warga yang rutin ikut serta, aku dan yang lain sudah bersiap dengan ekspektasi yang sama: menunggu momen puncak ketika beliau mengangkat tangan, mengepalkan tinju ke udara, dan berteriak lantang, yang pasti akan langsung kami sambut dengan sorak-sorai menggelegar.

Ekspektasi yang Melenceng

Tapi malam itu, apa yang terjadi jauh berbeda dari yang kami bayangkan.

Saat Bapak Kepala Dukuh berdiri di atas panggung dan mulai memberi sambutan, ada yang berbeda dari pembawaannya. Beliau menatap warga dengan tenang, lalu menyampaikan sebuah pernyataan yang seketika mengubah total suasana lapangan voli itu. Tangannya tidak mengepal ke udara, suaranya pun tidak meledak-ledak.

Sambil memegang mikrofon, beliau menatap kami dan berkata dengan tegas,

"Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian. Pada peringatan malam ini, saya tidak akan mengucap pekik kemerdekaan seperti biasanya."

Kemerdekaan dari Kecemasan

Seketika, suasana di atas tikar itu menjadi hening. Kami saling pandang, menunggu kelanjutan kalimatnya. Beliau kemudian memecah keheningan itu dan menjelaskan alasannya dengan bahasa yang sederhana dan logis,

"Bapak, Ibu sekalian, saya tidak memekikkan kemerdekaan karena situasi yang sedang berlangsung saat ini. Menurut saya, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi masyarakat yang cemas memikirkan biaya pengobatan. Kemerdekaan itu terwujud ketika tidak ada lagi orang tua yang cemas memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya., dan lain-lain"

Doa untuk Kedaulatan yang Sesungguhnya

Kata-kata itu meluncur sederhana, memakai bahasa sehari-hari yang mudah dipahami seluruh warga. Alih-alih kehilangan semangat karena tidak ada teriakan "merdeka" yang menggelegar, warga justru menyambut ucapan beliau dengan sorak-sorai yang jauh lebih gemuruh dan penuh haru. Kami semua mengamini kalimat itu.

Sebagai penutup sambutannya, beliau mendoakan agar Tuhan menjadikan Indonesia benar-benar menjadi negara yang berdaulat, adil, dan makmur.

Malam itu, di sebuah lapangan voli yang sederhana, aku mendapat satu kesimpulan yang jelas: merdeka bukan sekadar merayakan masa lalu dengan gegap gempita, melainkan doa dan kerja keras bersama agar kita semua benar-benar terbebas dari rasa cemas.

Salam,
Agus Tri Yuniawan

_______

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81.

Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi.

Progress: Hari ke-1 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026).

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay