Kalau Semua Bisa Gampang Kesampaian, Apa Bikin Bahagia?
Pasti bahagia banget, ya, hidup ini, hehe, halu mode on :D
Khayalan semacam itu manusiawi banget. Kita sering mendefinisikan kebahagiaan sebagai suatu garis finis ketika semua daftar keinginan kita sudah kecentang habis. Nggak ada lagi tagihan, nggak ada lagi penolakan, nggak ada lagi keringat perjuangan.
Tapi, benarkah kalau semua keinginan kita terpenuhi, kita otomatis bahagia selamanya?
Dulu waktu SMA aku seneng maen PS di rumah teman. Buat kamu yang pernah main Black, salah satu game tembak-tembakan legendaris bergenre FPS yang terkenal susah pada masanya, pasti pernah ngerasain paniknya kehabisan peluru saat lagi dikepung musuh dari segala arah.
Lalu, suatu hari aku dikasih tahu cara pakai cheat code Infinity Ammo (peluru tak terbatas). Pas pertama kali mengaktifkan cheat itu, rasanya euforia luar biasa. Aku bisa menembak membabi buta, menghancurkan barikade, dan maju terus tanpa perlu repot sembunyi buat reload atau cari amunisi. Rasanya seperti jadi dewa perang di dalam game.
Tapi jujur, lama-lama enggak asyik. Setelah itu, game-nya terasa hambar dan membosankan. Nggak ada lagi rasa deg-degan yang bikin nagih, dan akhirnya malah kembali ke mode normal.
Kenapa game yang tadinya seru bisa jadi membosankan saat kita punya segalanya?
Jawabannya sederhana: karena tantangannya hilang.
Ternyata, otak manusia di dunia nyata juga bekerja dengan “sistem operasi” yang mirip seperti itu.
Hormon kebahagiaan dan motivasi kita, yaitu dopamin, ternyata unik. Ia tidak diproduksi secara maksimal saat kita mendapatkan sesuatu, melainkan saat kita sedang mengejar sesuatu. Kenikmatan terbesar justru ada pada proses perjuangannya, pada antisipasinya, dan pada rasa penasaran, “Berhasil nggak ya?”
Makanya, kalau semua keinginan kita tiba-tiba terpenuhi secara instan, sistem dopamin kita bakal “error”. Kita kehilangan alasan untuk bangun pagi. Nggak ada lagi serunya nabung berbulan-bulan demi beli barang impian. Nggak ada lagi deg-degannya nunggu chat balasan dari doi.
Semuanya serba instan, datar, dan akhirnya berujung pada kehampaan total, emptiness.
Lebih dari itu, hukum kehidupan juga mengajarkan bahwa kenikmatan hanya bisa terasa kalau ada kontrasnya.
Kamu nggak akan pernah tahu senikmat apa seteguk air es kalau belum pernah merasakan kerongkongan kering setelah puasa 14 jam. Kamu juga nggak akan merasa kasur tipismu begitu empuk kalau badanmu belum remuk redam setelah seharian kerja.
Rasa sakit, lelah, penolakan, dan doa-doa yang belum terkabul sebenarnya bukan hukuman. Semua itu adalah “bumbu penyedap” yang membuat keberhasilan terasa jauh lebih nikmat saat akhirnya datang.
Dunia ini memang tidak didesain sebagai tempat di mana semua keinginan terpenuhi seketika. Itu sih deskripsinya surga.
Dunia adalah tempat bermainnya. Tempat menjalani gameplay-nya.
Kalau mainnya pakai cheat, ya lama-lama nggak asyik lagi.
Jadi, kalau hari ini kamu masih punya banyak keinginan yang belum terwujud, masih harus nabung, masih harus capek kerja banting tulang... syukuri saja. Artinya, game kehidupanmu masih berjalan normal.
Dan mungkin, justru di situlah letak serunya.
Nikmati proses ngejarnya. Karena kebahagiaan sejati bisa jadi bukan terletak pada “memiliki”, melainkan pada “menuju”.
Pernah nggak kalian ngalamin momen ketika lagi berjuang rasanya seru banget, tapi pas targetnya sudah tercapai malah muncul perasaan, “Oh, gini doang?”
Yuk, curhat di kolom komentar!
Salam,
Agus Tri Yuniawan
