Beranjak Dewasa, Berhenti Menghakimi
Dulu, pemahamanku tentang agama dan ibadah sangatlah kaku dan tekstual. Hal sesederhana puasa saja, kukira mutlak dimulai sejak sirine imsak berbunyi, padahal secara ilmu batas sebenarnya adalah adzan subuh. Begitu pula saat melangkah ke majelis pengajian. Dulu, aku berangkat dengan ambisi mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Kini, kacamataku berubah. Ilmu itu jatuhnya sekadar bonus. Tujuan utamaku duduk berdesakan di majelis justru untuk mencari keberkahan, vibrasi positif, dan ketenangan batin yang entah mengapa selalu memelukku saat berada di lingkungan yang baik.
Kenaifan di masa lalu itu juga sempat membuatku mudah menghakimi. Aku pernah memandang sebelah mata pada mereka yang jarang terlihat meramaikan shaf masjid atau absen dari kajian agama. Ada kebanggaan terselubung di dada, merasa bahwa ketaatanku jauh lebih baik dari mereka. Namun hari ini, aku tertampar oleh pemikiranku sendiri. Aku baru sadar bahwa merasa lebih suci dari orang yang tidak ke masjid itu adalah puncak dari kesombongan spiritual. Aku mulai memahami bahwa ibadah ritual sejatinya adalah ranah paling intim antara manusia dengan Tuhannya. Sementara bukti nyata dari keberhasilan ibadah itu adalah bagaimana cara ia memanusiakan manusia lain. Kesalehan sosial yang baik adalah buah dari pohon ibadah yang ditanam dengan benar.
Pergeseran cara pandang ini juga menyentuh pemahamanku tentang hubungan antarmanusia, khususnya pernikahan. Dulu, kepalaku dipenuhi standar ideal yang didiktekan oleh buku-buku atau ceramah romantis pranikah. Aku mengira bentuk ketaatan istri itu selalu berwujud kemanjaan, seperti bertanya, "Mas, aku bagus pakai baju yang ini atau yang itu?" atau inisiatif mengajak bermesraan saat anak-anak sudah terlelap. Nyatanya, realitas di lapangan sungguh merobek standar ideal itu. Ternyata, ada sangat banyak wanita yang sudah sampai di titik "mati rasa". Mereka berhenti bersikap manis, berhenti berharap, dan sekadar berjuang mempertahankan kewarasannya sendiri karena memiliki pasangan yang jauh dari kata ideal. Sikap dingin mereka bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan mekanisme pertahanan diri dari luka yang sudah terlalu dalam.
Bahkan dalam urusan sosial kemasyarakatan pun, cara pandangku dipaksa membumi. Dulu aku begitu kagum melihat ada program-program pemberdayaan masyarakat, mengira semuanya murni lahir dari kepedulian yang tulus. Kini, aku harus menelan pil pahit realitas bahwa tidak sedikit dari program mulia itu hanyalah sebatas "proyek" serapan anggaran. Begitu dana cair, acara selesai, spanduk digulung, dan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dijilid rapi, maka selesai pula urusannya. Masyarakat kembali ditinggalkan, dan program itu tak pernah disinggung lagi.
Merasakan semua pergeseran ini sempat membuatku bingung. Apakah aku sedang menjadi pesimis? Apakah aku menjadi apatis? Ternyata tidak, Sobat. Kehilangan kenaifan bukan berarti kehilangan harapan. Justru, dengan menyadari luasnya realitas ini, aku sedang diajarkan satu ilmu tertinggi dalam kehidupan, yakni memaklumi.
Maka, izinkan aku menutup renungan ini dengan sebuah "oleh-oleh" untuk kita semua.
Semakin luas wawasan kita, seharusnya semakin sedikit kita menghakimi. Jika dulu kita gampang menyalahkan karena hanya melihat dari satu sudut pandang yang sempit, kini biarlah keluasan ilmu membuat kita lebih banyak memeluk kenyataan. Kita jadi paham bahwa dunia ini tidak selalu berjalan ideal seperti teks di buku panduan, bahwa setiap orang memikul 'perangnya' masing-masing di balik pintu rumahnya yang tertutup, dan bahwa tugas kita bukanlah menjadi hakim atas kehidupan orang lain. Tugas kita hanyalah terus berjalan, terus berbuat baik semampu kita, dengan hati yang semakin menunduk dan sadar diri.
Salam,
Agus Tri Yuniawan
