Jangan Lupakan Sponsor Utamamu

Sobat, mari kita bicara jujur tentang apa yang kita lihat di layar kaca ponsel kita setiap hari. Pernahkah kamu melihat story seorang kawan yang begitu memukau? Mungkin dia baru saja memamerkan bisnis kedai kopinya yang baru buka, memposting foto wisuda dari kampus mahal, atau sekadar flexing liburan estetik di tempat yang tiket pesawatnya saja bikin kita menelan ludah.

Reaksi pertama kita pasti kagum, "Wah, hebat banget dia, masih muda sudah sukses." Tapi, ada jeda sejenak di kepala kita, terutama bagi kita yang mengenal mereka secara personal. Kita tahu fakta di balik layar yang tak tertulis di caption. Kita tahu bahwa kedai kopi itu modalnya dari "Bank Ayah". Kita tahu biaya hidupnya di luar negeri ditanggung penuh tanpa dia perlu kerja paruh waktu. Kita tahu tiket liburan itu hasil tarik tunai ATM orang tua.

Apakah salah menjadi anak yang beruntung dan mendapat fasilitas orang tua? Sama sekali tidak. Itu adalah rezeki yang harus disyukuri. Tapi, menjadi masalah ketika fasilitas itu dipamerkan sebagai "pencapaian pribadi" tanpa sedikit pun memberikan kredit kepada sang pemberi fasilitas. Di sinilah letak ketidakjujurannya.

Banyak orang terjebak dalam ilusi ingin terlihat self-made atau sukses atas kaki sendiri. Mereka ingin dibilang pekerja keras, visioner, dan tangguh. Maka di media sosial, mereka menampilkan piala kemenangannya saja, tapi sengaja menyembunyikan "tangan-tangan" yang menggendong mereka menuju garis akhir. Mereka seolah ingin berkata, "Lihat, aku hebat kan?" sambil diam-diam berharap orang lain tidak tahu bahwa "bensin" mereka diisi penuh oleh orang tua setiap pagi.

Sikap ini perlu diperhatikan. Pertama, ini menyesatkan penonton. Orang lain yang berjuang dari nol, yang harus membagi gaji UMR untuk makan sendiri dan orang tua, akan merasa kecil hati melihat pencapaian itu. Mereka merasa gagal karena tidak bisa secepat itu, padahal mereka lupa bahwa mereka sedang lari maraton, sementara si kawan tadi sedang naik mobil balap.

Kedua, sikap ini adalah bentuk pengingkaran rasa terima kasih. Hidup ini ibarat sebuah film. Kita memang pemeran utamanya. Tapi ingat, film yang bagus tidak pernah membuang credit title di akhir tayangan. Ada produser, ada sutradara, ada kru yang membuat si aktor terlihat bersinar.

Begitu juga hidup kita. Jika pencapaianmu hari ini ada campur tangan orang tua, entah itu modal uang, koneksi, atau sekadar ketenangan batin karena tidak perlu memikirkan bayar listrik, maka akuilah. Jangan di-crop. Jangan disembunyikan.

Mengakui bahwa "Saya bisa begini karena didukung orang tua" tidak akan membuatmu terlihat lemah. Justru, itu membuatmu terlihat jujur dan berkelas. Itu menunjukkan bahwa kamu sadar diri. Apa susahnya menyisipkan kalimat kecil: "Alhamdulillah, terima kasih Buk, Pak, yang sudah memodaliku sampai titik ini," di sela-sela stori whatsapp-mu?

Maka, sebagai "oleh-oleh" untuk renungan kita hari ini: Janganlah kita menjadi manusia yang lupa kulit, apalagi lupa akar. Jangan bangga berteriak di garis finis, jika kamu memulai lomba bukan dari garis start, melainkan dari gendongan.

Berterima kasihlah. Sebutkan nama mereka yang berjasa. Karena sesungguhnya, mengakui bantuan orang lain adalah tanda jiwa yang besar, sementara menyembunyikannya demi validasi semu adalah ciri jiwa yang kerdil. Mari kita belajar untuk tidak hanya bangga pada hasil, tapi juga hormat pada asal-usul, sangkan paraning dumadi.

Salam,
Agus Tri Yuniawan