Jauh di Mata Dekat di Rasa

by - Juni 02, 2020

Seberapa sering kita melihat status WhatsApp? Berapa kali kita mengecek siapa saja yang sudah melihat status yang kita posting di WA? Berapa banyak kita mengikuti orang-orang di media sosial? Meski tidak berjumpa, bahkan juga tidak saling mengirim pesan, tetapi dengan itu semua terasa dekat. Terlepas dari kangen atau rindu yang mensyaratkan ada perjumpaan fisik, perasaan dekat inilah yang membuat kita saling terhubung. Rasa ini yang menguatkan ikatan-ikatan. Menurut Hermann Ebbinghaus, pada umumnya jika hari ini kita menjumpai sesuatu yang baru, selanjutnya dalam enam hari kedepan sebanyak 75% ingatan tersebut akan kita lupakan. Ajaran agama pun menyatakan bahwa kita sebagai manusia adalah tempatnya salah dan ...., LUPA!, benar sekali. 

Dengan demikian ketika kita sesekali melihat status wa orang-orang dalam kontak kita, kemudian orang-orang tersebut juga melihat status kita, maka ingatan kita akan orang tersebut menjadi terjaga, hal ini secara halus akan membangun perasaan dekat. Pada platform lain seperti Instagram, Facebook, Twitter, manakala saling like itu juga menimbulkan rasa yang dekat. Rasa ini jika terus dijaga akan menghasilkan "rasa memiliki teman, memiliki saudara", sehingga kita merasa nyaman. 

Pun dengan perbandingan terbalik, apabila saling "perang" di dunia maya, apalagi mendapat rundungan, bullyan, maka juga menghasilkan rasa memiliki musuh ataupun haters di dunia maya, akhirnya merasa tidak aman, cemas, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan ini sebenarnya kita tahu, bahwa dekat ataupun jauh, banyaknya teman ataupun musuh, tak semata-mata karena jarak ataupun jumlah, tetapi lebih tentang rasa. Tak peduli kamu di Jogja dan kekasihmu di Bandung, lalu setiap akhir pekan kamu menemuinya dan terasa enteng saja. Ini tentang rasa, yang ada di dalam.

Akhirnya sumber dari ketenangan adalah rasa didalam diri, yang memang sesekali perlu "dipancing" dengan sesuatu dari luar. Pun juga dalam situasi kopit sembilan belas ini. Takut, cemas, bahkan sakit, penyumbang terbesar adalah rasa di dalam diri. Hal ini salah satunya karena masifnya berita-berita yang campur aduk di media masa, yang kadang tak sengaja muncul di notifikasi, gambar-gambar yang otomatis tersimpan di galeri, ataupun tulisan-tulisan yang sengaja diteruskan ribuan jemari. Teman saya sampai meng-uninstal semua aplikasi sosial media yang ada pada gawainya, wkwk. Sehingga tidak heran ketika ada meme yang bertuliskan "selama 30 hari berhentilah melihat berita, maka separuh masalahmu akan beres :D". Maka membangun rasa menjadikan kita menjadi dekat dengan hal tersebut. Mari bangun rasa cinta, rasa kaya, rasa cukup, rasa sedulur, dalam hati sanubari kita.

Salam,
Agus Tri Yuniawan

Sumber gambar: pinterest[dot]com

You May Also Like

0 komentar