Hati-Hati, Ada Tamak Dalam Dirimu

by - Juni 30, 2020

"Tamak adalah rasa ingin mendapatkan kepunyaan orang lain." Kita sepakati dulu ya definisi tersebut. Yang namanya makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari keberadaan orang lain. Aktifitas sosial meniscayakan orang melihat apa-apa yang dimiliki satu sama lain. Uang, kendaraan, pakaian, aksesoris, bahkan makanan. Itu semua adalah contoh kebutuhan sehari-hari manusia. Jika kebutuhan tersebut belum tercukupi, biasanya ada rasa ingin mendapatkan ketika membaur dengan orang lain.

Saya dan Zaid misalnya. Kami berteman. Zaid punya kebon di rumahnya. Disana ditanami pisang raja super, dan kebetulan sudah berbuah masak. Saya pun kebetulan suka banget makan buah pisang. Tapi mau beli di pasar kok sayang, eman. Oleh karenanya saya dolan ke rumah Zaid, dengan niat utama supaya dikasih pisang raja :d

Nah, ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa ada rasa tamak dalam hati saya. Dampak dari adanya rasa tersebut adalah saya menjadi kurang enjoy ketika dolan, saat srawung. Pikiran selalu tertuju pada momen dikasih pisang. Manakala beneran dikasih, maka saya menjadi senang. Sebaliknya saya pun kecewa jika ternyata tidak mendapatkan apa yang saya niatkan. Inilah dampak rasa tamak. Perasaan menjadi 'terkurung' pada 'keinginan mendapatkan', akhirnya jatuh pada kekecewaan manakala gagal mendapatkan.

Jika ditarik dalam kehidupan yang lebih luas, kira-kira seperti inilah yang mungkin akan kita rasakan. Bagaimana menghadapinya? Ada dua cara yang dapat kita lakukan. Pertama dengan pendekatan materi, yaitu dengan bekerja mencari penghasilan sebaik-baiknya. Jika kebutuhan kita sudah tercukupi, niscaya kita dapat memperkecil rasa tamak. Gimana mau pengen, wong kita udah punya. Ibarat perut yang sudah kenyang, maka kita nggak tertarik dengan makanan yang sedang dimakan orang lain. Apalagi jika ternyata makanan orang tersebut pas-pasan. Dengan menyingkirkan tamak dari diri kita, akhirnya orang lain pun dapat menyelesaikan makanannya dengan tenang.

Cara yang kedua adalah dengan memiliki cara berfikir bahwa hidup ini cuma sesaat. Saya hari ini cuma punya uang 200ribu misalnya. Hal ini rasanya sudah lebih dari cukup. Uang ini masih sisa jika digunakan untuk makan hari ini. Toh belum tentu besok saya masih hidup. Maka sungguh berlebihan jika saya panjang angan-angan pengen mendapatkan apa yang orang lain miliki. Maka cara yang kedua ini menggunakan pendekatan spiritual.

Dua cara itulah yang dapat kita terapkan manakala menghadapi rasa tamak dalam diri. Oleh karenanya itu dalam bekerja, kita niatkan supaya kita dapat menyingkirkan rasa tamak. Jika kita sudah tercukupi kebutuhannya, maka tidak pengen terhadap milik orang lain. Orang lain pun merasa aman dengan keberadaan kita. Tidak khawatir kita minta, tidak merasa terancam kita ambil. Pada lingkup lain yakni ketika menjalankan amanah pekerjaan misalnya, orang yang jauh dari sifat tamak maka tidak akan tertarik melakukan korupsi, tidak menyalahgunakan keuangan untuk kepentingan pribadi, maupun berupaya mencari margin untuk keuntungan sendiri. Orang sudah merasa beres dengan kehidupannya, sudah merasa cukup, sudah merasa kaya, merasa sudah punya, jadi tidak perlu punya perasaan ingin mengambil yang bukan haknya.

Sebagai penutup, mari kita mengutip sebuah pelajaran dari buku Nashaihul 'Ibad, dari sahabat Utsman bin Affan ra. mengatakan "siapa yang menyingkirkan sifat tamak dari milik orang-orang, maka ia akan dicintai mereka", karena orang yang menyingkirkan sifat tamak, maka dia tidak akan menjadi beban pikiran orang lain. Alhamdulillah.


Salam,
Agus Tri Yuniawan


Sumber Gambar: shutterstock[dot]com

You May Also Like

0 komentar