Semua Akan Membiasa


Orang bijak pernah berkata, "waktu akan menyembuhkan segalanya". Ya, waktu adalah salah satu hal dalam naungan kuasa Allah. Ketika ia terlewat maka manusia tak dapat menariknya kembali, dan manakala ia belum datang maka berbagai macam kemungkinan bisa terjadi.

Ketika wajik pertama kali diperkenalkan, ia adalah makanan lezat nan mewah, yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu saja. Namun kini, setiap orang dapat menikmatinya tanpa memandang status sosial. Ia menjadi makanan yang biasa, yang turut meramaikan menu kulinaria. 

Demikian halnya dalam kehidupan manusia. Rasa susah dan senang silih berganti. Apapun penyebab susah dan senang itu suatu saat pun akan menjadi hal yang biasa. 

Anak kecil senang diberi kelereng. Ia adalah mainan istimewa yang berkilauan, yang menimbulkan rasa bangga manakala dapat mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Namun ketika anak kecil itu bertumbuh menjadi remaja, kelereng-kelereng itu menjadi biasa, begitu pula mainan lainnya.

Ini semua karena waktu yang telah memperjalankan cerita, bak roda yang terus berputar. Cerita heboh hari ini, akan menjadi biasa di esok hari. Kebanggaan-kebanggaan hebat saat ini, maka seminggu, sebulan, setahun yang akan datang berubah menjadi biasa saja dan menjadi story. Pesta yang megah hari ini, ketika selesai pun akan dilupakan, yang tersisa adalah hitung-hitungan, bayar sewa tenda, bolo pecah, dan yang lainnya. Belum lagi capek di badan dan potensi-potensi "geseh" dengan tetangga.

Maka, tulisan ini bukan mengajak untuk apatis, pesimis, apalagi berpangku tangan. Tetapi coretan sederhana ini mengajak kita semua, agar tidak mudah terbawa arus sesaat, yang dengannya itu manusia baru menyadari akibat perbuatannya di kemudian hari.

Tulisan ini juga mengajak, agar kita semua menjadi seperti yang Allah kehendaki, yakni menjadi umat pertengahan. Jika sedih, tidak larut dalam nestapa. Ketika senang, tidak hanyut dalam euforia. Sedang-sedang saja. Maka Sahabat pun berkata, "jangan mudah berjanji ketika senang, dan jangan mengambil keputusan ketika sedang marah". Karena waktu akan terus berputar, dan orang akan dikenang dengan apa yang dituliskannya dalam sejarah.

Kesulitan-kesulitan hari ini, jangan membuatmu putus asa. Kemudahan-kemudahan hari ini, jangan membuatmu jumawa, apalagi merendahkan yang lainnya. Karena di kemudian hari, semua itu akan membiasa. 

Salam,
Agus Tri Yuniawan