Ilmu yang Baru Terlihat Setelah Diuji Waktu

Ada orang-orang yang ketika berbicara membuat kita segera terkesan.

Kalimatnya tertata, istilah yang digunakan terdengar tinggi, dan hampir dalam setiap pembicaraan ia selalu punya sesuatu untuk disampaikan. Kadang, tanpa sadar, kita langsung menyimpulkan: orang ini pasti pintar. Orang ini pasti berilmu.

Saya pun beberapa kali seperti itu.

Mudah terkesan kepada seseorang hanya karena caranya berbicara terlihat meyakinkan. Sebaliknya, pernah pula saya memandang biasa seseorang yang lebih banyak diam, tidak terlalu menonjol dalam percakapan, dan sepertinya tidak memiliki banyak hal untuk dipamerkan.

Namun waktu sering memberikan penjelasan yang tidak bisa diberikan oleh pertemuan pertama.

Ada orang yang begitu cemerlang ketika berbicara, tetapi ketika berhadapan dengan persoalan sederhana justru mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Ada yang begitu mudah menjelaskan bagaimana seharusnya orang lain bersikap, tetapi kesulitan menerapkannya ketika dirinya sendiri sedang marah, kecewa, atau merasa dirugikan.

Sebaliknya, ada pula orang yang tidak banyak bicara. Namun ketika keadaan menjadi rumit, ia justru mampu tetap tenang, membaca situasi, dan mengambil tindakan yang paling masuk akal.

Dari sana saya mulai berpikir bahwa mungkin selama ini saya terlalu cepat menilai kecerdasan seseorang dari perkataannya.

Sebuah Kalimat dalam Mahfuzhat

Kemudian saya menemukan sebuah kalimat dalam buku Mahfuzhat yang ditulis oleh Tim Rene Islam:

"Bukti kecerdasan seseorang dapat dilihat dari perbuatannya, dan bukti keilmuan seseorang dapat dilihat dari pembicaraannya."

Saya membacanya beberapa kali.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi seperti sedang mengingatkan sesuatu yang selama ini sering terbalik dalam pikiran saya.

Kecerdasan rupanya tidak cukup dibuktikan dengan kemampuan berbicara.

Ia justru terlihat dari perbuatan.

Dari bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika pilihan tidak mudah. Dari bagaimana ia menyelesaikan persoalan. Dari kemampuannya menahan reaksi sesaat demi menghindari masalah yang lebih besar.

Bahkan mungkin dari hal-hal yang sangat sederhana.

Kapan harus berbicara.

Kapan sebaiknya diam.

Kapan harus bertahan.

Dan kapan keberanian justru berarti bersedia mengalah.

Orang yang mengetahui banyak hal belum tentu selalu mampu bertindak dengan tepat. Sebab mengetahui sesuatu dan mampu menggunakan pengetahuan itu dalam kehidupan ternyata adalah dua perkara yang berbeda.

Ilmu yang Terdengar dari Cara Berbicara

Bagian kedua dari kalimat itu juga menarik bagi saya.

"Bukti keilmuan seseorang dapat dilihat dari pembicaraannya."

Awalnya saya sempat mengartikannya sebagai kemampuan seseorang berbicara tentang banyak hal. Namun setelah direnungkan, rasanya bukan itu maksudnya.

Orang berilmu bukan berarti orang yang selalu mempunyai jawaban.

Justru mungkin sebaliknya.

Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin ia memahami bahwa tidak semua hal ia ketahui.

Karena itu, pembicaraannya menjadi lebih hati-hati.

Ia tidak mudah memastikan sesuatu yang belum jelas. Tidak buru-buru menghakimi orang hanya dari satu cerita. Tidak merasa bahwa pengalaman pribadinya berlaku untuk semua orang.

Ia juga tidak perlu membuat pembicaraannya terdengar rumit agar dianggap pintar.

Kadang ilmu yang benar-benar dipahami justru keluar dalam kalimat yang sederhana.

Mudah dimengerti.

Tidak merendahkan.

Dan memberi manfaat kepada orang yang mendengarkannya.

Ada perbedaan antara berbicara untuk menunjukkan bahwa kita tahu dan berbicara karena memang ada sesuatu yang layak disampaikan.

Perbedaannya tipis, tetapi rasanya dapat dirasakan.

Tahu Saja Ternyata Tidak Cukup

Namun kalimat dalam Mahfuzhat tadi membawa saya kepada pertanyaan lain yang terasa lebih dekat.

Bagaimana jika seseorang memiliki banyak pengetahuan, tetapi perbuatannya belum mencerminkan pengetahuan itu?

Saya kemudian menyadari bahwa mungkin inilah pergulatan yang dialami hampir semua orang.

Kita tahu bahwa marah tidak menyelesaikan persoalan, tetapi kita masih bisa marah.

Kita tahu bahwa prasangka sering menyesatkan, tetapi kita tetap mudah menilai orang.

Kita tahu bahwa menjaga lisan itu penting, tetapi kadang baru menyesal setelah sebuah kalimat terlanjur keluar.

Artinya, mengetahui kebaikan tidak otomatis membuat seseorang selalu mampu melakukannya.

Ada jarak antara ilmu dan perbuatan.

Dan mungkin tugas kita sepanjang hidup adalah terus memperpendek jarak itu.

Nasihat yang Sebaiknya Ditujukan ke Diri Sendiri

Pada akhirnya, saya merasa kalimat tersebut akan kehilangan maknanya jika hanya digunakan untuk mengukur orang lain.

"Orang itu tidak cerdas, lihat saja perbuatannya."

"Atau orang itu tidak berilmu, dengarkan saja bicaranya."

Sangat mudah menjadikan sebuah nasihat sebagai alat untuk menilai orang lain.

Padahal mungkin ia lebih berguna jika diarahkan kepada diri sendiri.

Jika saya merasa cukup cerdas, sudahkah kecerdasan itu membuat keputusan saya lebih baik?

Sudahkah ia membuat saya mampu mengendalikan diri ketika keadaan tidak sesuai keinginan?

Jika saya merasa mengetahui banyak hal, apakah pengetahuan itu membuat perkataan saya semakin hati-hati?

Atau justru membuat saya semakin senang menunjukkan kekurangan orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada sekadar menentukan siapa yang pintar dan siapa yang tidak.

Tidak Perlu Terlalu Sibuk Membuktikan

Mungkin kita memang tidak perlu terlalu sibuk meyakinkan orang lain bahwa kita cerdas.

Sebab pada waktunya, keputusan dan perbuatan kita akan berbicara.

Kita pun tidak harus selalu menunjukkan betapa banyak yang kita ketahui.

Cara kita berbicara, memilih kata, mengakui ketika tidak tahu, dan memperlakukan pendapat orang lain sedikit demi sedikit akan memperlihatkan seberapa jauh ilmu telah membentuk diri kita.

Pada akhirnya, orang lain mungkin lupa seberapa banyak teori yang pernah kita sampaikan.

Tetapi mereka sering mengingat bagaimana kita bertindak ketika persoalan datang, dan bagaimana ucapan kita membuat mereka merasa setelah sebuah percakapan selesai.

Barangkali di situlah kecerdasan dan ilmu menemukan bentuknya yang paling nyata.

Bukan ketika keduanya dipamerkan.

Melainkan ketika perlahan-lahan berubah menjadi sikap.


Salam, 
Agus Tri Yuniawan 

_______
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81. Tema: Merdeka Berpikir, Merdeka Menulis, Merdeka Menginspirasi. Progress: Hari ke-22 dari Tantangan 30 Hari Menulis Blog (17 Agustus - 17 September 2026). "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!" - Omjay 
Sumber gambar: AI image